Ekonomi Kapitalistik Membuat Rapuhnya Sistem Pangan

0
39

Oleh : Qomariah

Ancaman kelaparan akut di dunia semakin meningkat, disebabkan berbagai faktor diantaranya sistem ekonomi kapitalistik yang masih diterapkan di setiap negara dunia, tidak memiliki mekanisme mensejahterakan rakyat. Sehingga rakyat diminta berjuang sendiri untuk memenuhi isi perut, hingga terjadilah kesenjangan kesejahteraan.

Berbagai jumlah penduduk dunia yang menghadapi kerawanan pangan akut, melonjak menjadi sekitar 282 juta orang pada 2023. kata organisasi pangan dan pertanian PBB (FAO) pada Rabu (24/4). Angka ini menunjukkan peningkatan 24 juta orang sejak 2022, sebut FAO dalam laporan krisis pangan global terbarunya.

Jumlah penduduk dunia yang berada di ambang kelaparan juga meningkat menjadi lebih dari 700.000 orang pada tahun lalu, hampir dua kali lipat dari angka yang tercatat pada 2022. Badan PBB itu pun menyerukan “respon darurat”.

“Salah satu temuan paling penting (dalam laporan tersebut) adalah bahwa persentase populasi yang dikaji untuk masalah kerawanan pangan akut masih sangat tinggi pada 2023,”ucap direktur FAO untuk kedaruratan dan ketahanan Rein Paulsen dengan nada memperingatkan Roma (ANTARA, 25 April 2024).

Jalur Gaza saat ini menuju jumlah orang yang menghadapi bencana kelaparan tertinggi yang pernah tercatat dalam laporan krisis pangan global, bahkan disaat truk-truk bantuan yang diblokir mengantre di perbatasan,”tekan sekretaris jenderal PBB Antonio Guterres dalam kata pengantar laporan tersebut.

Selama empat tahun berturut-turut, proporsi orang yang menghadapi kerawanan pangan sangat ketinggi. Anak-anak dan perempuan bahkan berada di garis depan krisis kelaparan, lebih dari 36 juta anak di bawah usia lima tahun, di 32 negara kekurangan gizi akut memburu pada 2023, terutama di kalangan orang-orang yang mengungsi karena konflik dan bencana.

Siapa yang bertanggung jawab dan berperan mengakhiri kelaparan ini? Global Network against food crises, misalnya, telah mendesak pimpinan negara-negara dunia untuk mengambil langkah pendekatan transformatif yang mengintegrasikan antara tindakan perdamaian dunia, pencegahan perang, dan pembangunan ketahanan pangan. Apakah langkah ini bisa berhasil, mengingat sistem ekonomi kapitalis listik masih diterapkan di sebagian besar negara dunia.

Sistem kapitalisme meniscayakan penguasaan SDA di berbagai negara miskin, dan berkembang melalui penjajahan gaya baru. Hal ini makin memperparah memang kusut ekonomi masyarakat, akibat dari penerapan sistem ekonomi neoliberalisme ini, sistem pangan pun ikut rapuh.

Sehingga kelaparan akan terus menyelimuti dunia selama sistem ekonomi kapitalis masih diterapkan, kelaparan menjadi keniscayaan bahkan menjadi problem sistemis yang tidak akan berujung, sistem ini telah menerjang dan menyeret umat manusia ke dalam krisis parah yang berkepanjangan.

Umat manusia tidak akan pernah dapat diselamatkan dari bencana kelaparan akut dan ancaman kelaparan, kecuali dengan tegaknya sistem ekonomi Islam yang kuat dan menyejahterakan, di bawah naungan daulah Islam (Khilafah). Telah menjadi contoh nyata memiliki angka kemiskinan struktural 0%, serta wabah kelaparan pun segera bisa ditangani tanpa banyak menelan korban.

Penerapan sistem ekonomi Islam yang kuat dan menyejahterakan perekonomian rakyat dan negara melalui berapa mekanisme;
Pertama, melarang aktivitas riba, negara akan menjauhkan gerak riba dari segala kegiatan perekonomian.
Kedua, semua sektor usaha berbasis sektor produktif, dan menjamin kesejahteraan rakyat individu per individu.
Ketiga, memenuhi kebutuhan pokok massal, yakni pendidikan, kesehatan, dan keamanan.
Keempat, dalam kondisi tertentu negara memberi nafkah kepada individu rakyatnya, dan tidak mewajibkan perempuan untuk bekerja.
Kelima, mengelola SDA secara adil, negara akan mengatur dengan baik kepemilikan umum, negara, dan individu, sehingga tidak menimbulkan kemudharatan bagi rakyat dan negara.
Keenan, sistem keuangan negara menggunakan Baitul mal, dengan pos pendapatan yang beragam tanpa utang.
Ketujuh, penggunaan sistem moneter berbasis emas dan perak, sehingga angka inflasinya 0%.

Pemimpin dalam sistem Islam memiliki sifat empati dan mengutamakan kepentingan rakyatnya. Seperti di masa Khalifah Umar bin Khattab ra, misalnya senantiasa memberi masyarakatnya makanan, harta dan sebagainya. Dananya bersumber dari Baitul mal, saat rakyatnya ditimpa kelaparan, beliau bahkan memutuskan tidak akan makan mentega dan daging sampai musibah berakhir.
Dan prinsip beliau”biarlah aku yang pertama kali merasakan lapar dan menjadi orang terakhir merasakan kenyang.”

Sesungguhnya, sikap seorang pemimpin sejati dalam Islam, yakni tidak hanya mendatangi masyarakatnya ketika sedang membutuhkan suara untuk menaiki pucuk kekuasaan. Pada kondisi negara mengalami keguncangan ekonomi dan dilanda kelaparan, pemimpin Islam berupaya memenuhi kepentingan rakyat terlebih dahulu.

Marilah kita semua bermuhasabah di jalan yang diridhai Allah SWT, jika masih mengambil solusi selain Islam, niscaya penderitaan umat manusia kian kelam, hanya penerapan syariat Islam secara Kaffah yang bisa mengakhiri kelaparan akut di dunia, Insya Allah.
Wallahu a’lam bishawab.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here