Helikopter Presiden Gagal Mendarat, Namun Lega Karena Vetiver

0
440
Presiden Jokowi dibidik dari luar helikopter kepresidenan Super Puma L-2 AS-332 yang membawanya dan gagal mendarat saat akan meninjau daerah terdampak bencana banjir di Kecamatan Sukajaya, Kabupaten Bogor, Jawa Barat, Minggu (5/1/2020). | @jokowi

Kliksumatera.com, BOGOR – Vetiver. Satu kata moncer spontan meluncur dari bibir Kepala Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) Letjen TNI Doni Monardo, menjawab tanya Presiden Joko Widodo (Jokowi) di dalam helikopter, upaya orang nomor satu di Indonesia itu coba memecah keheningan usai pilot yang membawa mereka gagal ‘manuver’, Minggu (5/1/2020).

Penasaran apa itu Vetiver, apa yang terjadi? Berikut redaksi ketengahkan reportasenya, kutipan laporan Tenaga Ahli Bidang Media BNPB Egy Massadiah, seperti telah diunggah beranda akun BNPB, pukul 15.20 WIB. Atau, sepuluh menit berselang usai akun ofisial Presiden Jokowi mengunggah peristiwa itu.

Dari video unggahan BNPB, belum diketahui pasti apakah saat peristiwa itu terjadi, Egy berada satu helikopter bersama Presiden dan Kepala BNPB, Menteri PUPR Basuki Hadimuljono, dan Panglima TNI Marsekal TNI Hadi Tjahjanto tersebut.

“Demi mengetahui bencana bertubi Presiden Joko Widodo segera meminta Kepala BNPB Letjen TNI Doni Monardo menemaninya berkunjung ke lokasi-lokasi musibah,” tulis Egy Massadiah, memulai berkisah merujuk respons cepat Kepala Negara mengambil alih penanggulangan bencana banjir awal tahun 2020 di DKI Jakarta, Jawa Barat, dan Banten, tiga wilayah terdampak terparah.

Beberapa hari sebelumnya, Egy melanjutkan, setidaknya sejak pagi 1 Januari (2020), Doni sendiri selalu berusaha untuk tiba lebih awal sebagai representasi kehadiran negara di lokasi bencana.

“Singkat dan cepat, pagi ini 5 Januari 2020, tiga unit helikopter TNI-AU sudah stand by di Lanud Atang Sanjaya Bogor. Satu heli di antaranya, berisikan Presiden Joko Widodo, Panglima TNI Marsekal TNI Hadi Tjahjanto, Menteri PUPR Basuki Hadimuljono, dan Kepala BNPB Doni Monardo,” lanjut dia.

Dari Lanud Atang Sanjaya ke lapangan Helipad di Kecamatan Sukajaya, Kabupaten Bogor bisa ditempuh dalam waktu sekitar 20-an menit dengan helikopter kepresidenan Super Puma L-2 AS-332. “Apa daya, cuaca jelek mematahkannya,” ujar Egy kecewa.

Setelah terbang, 5 menit menjelang sampai di titik lokasi, helikopter berbendera merah putih dan bernomor ekor H-3204 itu gagal mendarat akibat cuaca jelek. Dua helikopter berisi rombongan lainnya, beberapa menit sebelumnya berhasil mendarat.

“Dua-tiga kali pilot helikopter kepresidenan berwarna biru dan strip merah putih itu melakukan approach, sedia mendarat. Sebanyak itu pula percobaan gagal, akibat cuaca buruk. Cuaca berkategori bad weather adalah cuaca yang tak bisa dilawan siapa pun,” Egy mengilustrasikan.

Dalam hal itu, imbuh Egy lagi, “pemegang kekuasaan” adalah pilot. Alhasil, “Presiden, Panglima TNI, Menteri PUPR, dan Kepala BNPB pun pasrah ketika pilot memutuskan untuk tidak mendarat, dan kembali ke Atang Sanjaya,” Egy mengafirmasi.

Di landasan helikopter Sukajaya, imbuhnya, Bupati Bogor (Ade Munawaroh Yasin, red), Kalak (Kepala Pelaksana) BPBD Kabupaten Bogor, para pemangku kepentingan serta para wartawan sempat terbengong-bengong ketika helikopter kepresidenan menjauh dari lokasi pendaratan.

Mereka, jelas Egy, baru maklum ketika mendapat penjelasan bahwa helikopter kepresidenan gagal mendarat karena cuaca tak memungkinkan. “Sejatinya, di Lanud Atang Sanjaya pun Presiden sudah diberi tahu ihwal kemungkinan cuaca jelek dan gagal mendarat di Sukmajaya,” tandasnya.

Akan tetapi, Presiden Jokowi meminta pilot tetap menuju lokasi bencana dan take a risk. Bahwa kemudian gagal mendarat. “Karena pilotlah yang memutuskan urung mendarat, karena pilotlah yang mengetahui kondisi bisa dan tidaknya helikopter didaratkan,” Egy menekankan.

“Di dalam kabin helikopter, kekecewaan juga merundung para penumpang di dalamnya,” tulis Egy lagi. Tampak wajah-wajah para petinggi negara yang muram karena urung melihat langsung kondisi rakyat yang tengah didera bencana.

Untuk sesaat, kabin helikopter kepresidenan hening, ujar dia, sampai akhirnya Presiden Jokowi yang memecah, dengan melempar pertanyaan kepada Doni Monardo. “Pak Doni, apa yang harus dilakukan (untuk mencegah longsor),” kata Presiden.

Spontan Doni menjawab, “Kembalikan fungsi lahan dengan menanam Vetiver, Pak Presiden.”

Nah sampai sini cukup jelas bukan? Lantas, apa itu Vetiver? Ya, Vetiver yang dimaksud Doni, adalah jenis tanaman yang kita kenal dengan nama akar wangi atau narwastu, sejenis tumbuhan rumput yang berasal dari India, termasuk dalam famili Poaceae, dan masih sekeluarga dengan sereh atau padi.

Egy menerangkan, sekalipun berjenis rumput, tetapi Vetiver memiliki akar yang menghujam hingga kedalaman dua sampai 2,5 meter. Tak pelak, menurut Egy, Vetiver menjadi pilihan terbaik untuk ditanam di lahan bekas (lahan) HGU (Hak Guna Usaha) yang telah digunduli, tanpa reboisasi.

“Ribuan lokasi bekas HGU, pohonnya sudah ditebangi dan ditinggal begitu saja,” ungkap Doni kepada Presiden Jokowi, dikutip Egy.

Bercampur kebisingan suara baling-baling helikopter, mantan Komandan Paspampres itu menyampaikan ke Presiden bahwa sisa-sisa akar pohon yang ditebang, kemudian membusuk dan saat musim hujan tiba dengan curah yang tinggi mengakibatkan rongga tanah rentan longsor. Rumah-rumah penduduk pun dengan mudah dan singkat dilumat arus lumpur longsoran yang deras.

Akar wangi, atau Vetiver, lanjut Doni adalah pencegah longsor terbaik. “Bioteknologi Vetiver sudah diujicoba dan mendapat pengakuan World Bank bahkan PBB. Di banyak tempat dan negara, tanaman ini sudah dikenal luas sebagai tanaman pencegah longsor,” ujar Doni, fasih.

Presiden, beber Egy, menarik napas panjang. Ia tampak lega mendapat solusi dari Doni. Sejurus kemudian, Presiden memerintahkan Doni segera melakukan penanaman Vetiver di area gundul, utamanya di lereng-lereng pegunungan.

“Untuk itu, Doni diminta melibatkan anggota TNI yang punya kualifikasi panjat tebing, termasuk kelompok Wanadri kelompok pendaki gunung yang memiliki keahlian mendaki,” ujar Egy.

Doni tak kalah lega. Ia pun menarik napas panjang penuh antusias. “Tahap awal saya siapkan seratus-ribu bibit akar wangi, Bapak Presiden,” ujar Doni siap.

Tak pelak, Doni mendapat PR (pekerjaan rumah) agar menanam di daerah dengan tingkat kemiringan tertentu yang dalam kondisi gundul, dan rawan longsor.

Doni menyebut, bukan satu-dua lokasi saja, melainkan terdapat ribuan titik rawan longsor di Tanah Air.  Itu semua diawali dengan pemberian HGU kepada perusahaan tanpa kontrol serta kewajiban menghijaukan kembali lahan HGU diabaikan dan telah digunduli semena-mena.

Penggundulan itu sudah terjadi 10 hingga 20 tahun yang lalu, dan tahun-tahun ini baru berdampak longsor. Dengan adanya instruksi presiden untuk menanam akar wangi tadi, diharapkan ke depan tragedi longsor bisa dikurangi, atau bahkan dicegah sama sekali.

“Di sela-sela tanaman akar wangi, akan diseling tanaman keras seperti sukun, aren, dan alpukat. Selain punya nilai ekologis, juga punya nilai ekonomis,” ujar Doni.

Begitulah, simpul Egy, pembahasan Vetiver di atas helikopter pun menjadi sesuatu yang konkrit. “Helikopter pun tiba di Lanud Atang Sanjaya. Para penumpang VVIP dan VIP pun turun dengan wajah yang lebih cerah, berkat vetiver calon penyelamat rakyat dari bencana longsor,” klimaks Egy.

Tambahan informasi, tutur ia, setiba di Atang Sanjaya, Presiden memerintahkan Menteri PUPR langsung menuju Kecamatan Sukajaya melalui jalur darat, memastikan peralatan berat berfungsi optimal sehingga akses menuju dan ke kecamatan itu dapat dibuka.

Egy Massadiah merincikan, Kementerian PUPR mencatat terdapat enam desa di Kecamatan Sukajaya yang terisolir akibat jalan akses tertutup longsor. Yakni, Desa Kiarasari, Kiara Pandak, Urug, Cisarua, Cileuksa, dan Pasir Madang.

Dan sesuai arahan Presiden, Menteri PUPR Basuki Hadimuljono telah mengirimkan delapan alat berat ke lokasi longsor Bogor, yaitu 1 loader, 1 buildozer, dan 6 excavator, sejak Sabtu (4/1/2020) kemarin.

Presiden Jokowi mengkonfirmasi informasi senada. “Banjir dan longsor awal tahun ini telah menutup akses jalan menuju enam desa di Kecamatan Sukajaya, Kabupaten Bogor, Jawa Barat,” ujar presiden dalam unggahannya, Minggu pukul 15.10 WIB.

Pemerintah, ujar dia, melalui Kementerian PUPR telah mengirimkan alat-alat berat ke lokasi longsor sejak kemarin.

“Tadinya, pagi ini saya hendak mengunjungi daerah terisolir oleh bencana itu, dengan helikopter. Apa daya, helikopter tak bisa mendarat karena cuaca yang tiba-tiba berubah sangat ekstrem dan berkabut tebal yang mengurangi jarak pandang pilot,” tulis Presiden bernada kecewa.

Dan? “Akhirnya, helikopter yang membawa saya tak jadi mendarat di daerah perbukitan itu. Untunglah, dua helikopter lain yang membawa bantuan logistik untuk pengungsi telah berhasil mendarat lebih dahulu di helipad Desa Pasir Madang, Sukajaya,” jelas Presiden pula.

Tak ketinggalan, Presiden mendoakan penuh pengharapan. “Semoga jalur darat menuju desa-desa Kiarasari, Kiara Pandak, Urug, Cisarua, Cileuksa dan Pasir Madang di Sukajaya bisa segera terbuka,” pungkasnya.

Nah, itu dia Sidang Pembaca. Buat jaga-jaga, ada baiknya kita kepoin yuk rumput vertiver yang dimaksud Kepala BNPB ke Presiden tadi. Tapi ingat, vertiver ya, bukan revolver. Ups.

Laporan          : Muzzamil

Editor/Posting : Imam Ghazali

 

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here