Oleh: Wiwik Frumsia (Pendidik)
Guru memiliki posisi penting dalam sistem pendidikan. Namun hari ini ada banyak persoalan yang terjadi pada guru. Mulai dari gaji tidak layak, guru hanya dianggap sebagai pekerja hingga maraknya kriminalisasi guru yang menunjukkan guru tidak memiliki jaminan perlindungan.
Di sisi lain, guru hari ini juga banyak yang melakukan perbuatan kontraproduktif terhadap profesinya. Di antaranya guru menjadi pelaku bullying, kekerasan fisik dan seksual, hingga terlibat judol. Guru menjadi korban sistem rusak.
Liputan6.com, Bandung – Hari Guru Nasional merupakan salah satu perayaan yang diperingati pada 25 November setiap tahunnya. Perayaan ini penting bagi masyarakat Indonesia terutama untuk memperhatikan peran guru bagi negara.
Pasalnya, guru merupakan sosok yang penting untuk banyak orang dalam mendapatkan ilmu pengetahuan. Mereka adalah pahlawan tanpa tanda jasa yang rela memberikan tenaganya membentuk karakter, memberikan ilmu pengetahuan, hingga memastikan masa depan cerah.
Guru menjadi salah satu orang yang berdedikasi untuk menghabiskan waktunya mencerdaskan bangsa dan memiliki peran penting membentuk seseorang. Guru juga dihormati agar perannya tidak hilang karena sosoknya menjadi pilar penting bagi negara.
Berdasarkan informasi dari Kemendikdasmen perayaan Hari Guru Nasional 2024 mengusung tema bertajuk “Guru Hebat, Indonesia Kuat”. Tema tersebut dipilih untuk menjadi dukungan dan apresiasi pada seluruh guru yang ada di Indonesia.
Kemudian temanya dipilih untuk menggambarkan bagaimana peran guru hebat yang mendedikasikan waktunya untuk mendampingi dan membina generasi muda Indonesia dalam membangun Indonesia jadi bangsa yang kuat. (Liputan6.com,22-11-2024)
Di samping itu, Mengutip pidato Menteri Agama RI pada upacara Hari Guru Nasional 2024, guru berdaya adalah mereka yang tidak hanya memiliki kompetensi dalam bidang akademik, tetapi juga mampu menginspirasi, berinovasi, dan menjadi agen perubahan. Guru yang berdaya mampu menggunakan teknologi untuk memperkaya pembelajaran, menghidupkan nilai-nilai karakter dalam proses pendidikan, dan menjadikan dirinya teladan bagi murid-muridnya, (kemenag, 24-11-2024).
Dari fakta yang ada dan yang diharapkan benarkah tema besar Hari Guru Nasional itu akan terwujud dengan terus menjadikan sistem sekuler demokrasi sebagai motor pelaksananya? Lantas, pantaskah guru terus diposisikan sebagai pahlawan tanpa tanda jasa? Ataukah perlu ada perubahan sistemis agar visi besar Hari Guru tidak sekadar menjadi cita-cita hampa?
Saat ini para guru dihadapkan pada karut-marut berbagai persoalan, di antaranya Mulai dari kisruh guru honorer, bongkar pasang kurikulum, kebijakan administrasi yang rumit, guru terjebak pinjol dan judol, kriminalisasi guru, hingga kasus asusila yang melibatkan guru dan murid.
Dilihat dari kisruh guru honorer, dengan gaji yang rendah, tekanan hidup yang dialami para guru justru sangat tinggi. Penerapan sistem ekonomi kapitalisme oleh negara menyebabkan guru harus mengeluarkan banyak biaya untuk hidup. Mulai dari kebutuhan pangan, sandang, tempat tinggal, transportasi, pendidikan untuk anak, kesehatan keluarga, dan lainnya. Harga-harga barang terus melonjak, sedangkan gaji tetap. Akibatnya, sebagian guru terpaksa melakukan kerja sampingan, misalnya mengojek, mengajar les privat, menjadi petugas SPBU, pekerjaan informal, bahkan mengumpulkan sampah, dan bahkan rela terjebak pinjol dan judol demi memenuhi kebutuhan hidupnya. Dengan impitan ekonomi seperti ini, guru tidak bisa fokus dan optimal dalam mendidik murid-muridnya.
Dilihat dari kriminalisasi guru, guru kurang dihargai. Di dalam sistem kapitalisme saat ini, guru tidak dipandang sebagai pendidik generasi penerus, tetapi hanya sebagai faktor produksi yang melakukan tindakan teknis demi memenuhi target produksi. Dunia pendidikan minim nilai ruhiah dan justru didominasi nilai materi. Akibatnya, penghormatan murid terhadap guru juga makin terkikis.
Dilihat dari bongkar pasang kurikulum yang membingungkan dan menjauhkan anak dari perilaku terpuji. Sistem pendidikan hari ini mengadopsi asas sekularisme dan nilai-nilai liberalisme yang melahirkan kurikulum yang tidak sesuai dengan jati diri siswa sebagai muslim. Akibatnya, lahirlah generasi berkepribadian pecah (split personality). Mereka muslim, tetapi sekuler dan liberal. Perilakunya jauh dari akhlak mulia. Pergaulannya bebas hingga berujung zina dan aborsi. Mereka juga terlibat kekerasan dan kriminalitas. Kurikulum yang ada juga gagal mencerdaskan murid sehingga kualitas akademiknya terkategori rendah. Bobroknya generasi pada aspek akademik maupun perilaku ini menjadi beban berat bagi para guru.
Dilihat dari Kebijakan administrasi yang rumit, Guru terbebani kebijakan administrasi yang banyak dan rumit terkait dengan sertifikasi sehingga menguras waktu dan perhatian. Hal ini pelan-pelan mengeluarkan guru dari peran hakikinya sebagai pendidik.
Dilihat dari Kehilangan profil diri pendidik. Tata kehidupan sekuler memengaruhi jati diri guru sehingga kehilangan profil diri pendidik. Mereka bergaya hidup sekuler dan liberal, rela Bahkan ada guru yang tega melakukan tindakan buruk pada siswa berupa kekerasan fisik maupun seksual hingga memakan korban jiwa.
Tampak bahwa karut-marut persoalan seputar guru tersebut bersifat sistemis, bukan hanya kasus personal individual. Oleh karenanya, kita butuh solusi sistemis untuk menyelesaikan persoalan yang guru hadapi secara tuntas hingga terwujud guru yang berkualitas dan selanjutnya menghasilkan generasi cerdas bertakwa.
Islam Memuliakan Guru, sistem pendidikan Islam mampu menghasilkan guru yang berkualitas, berkepribadian Islam, memiliki kemampuan terbaik, dan mampu mendidik muridnya dengan baik, Dari sisi sikap, Islam memerintahkan murid untuk takzim kepada guru dengan menunjukkan akhlak mulia dan adab yang luhur. Tidak hanya murid, negara juga memuliakan guru dengan memosisikannya sebagai pendidik yang harus dimuliakan. Dalam Islam, guru bukan sekadar pengajar, tetapi juga pendidik generasi umat Islam. Corak peradaban Islam ditentukan oleh para guru. Oleh karenanya, para guru haruslah orang-orang yang bertakwa, berakhlak mulia, memiliki ilmu pengetahuan yang mumpuni, disiplin, profesional, dan memiliki kemampuan mendidik.
Rasulullah SAW bersabda tentang profil guru, “Jadilah pendidik yang penyantun, ahli fikih, dan ulama. Disebut pendidik apabila seseorang mendidik manusia dengan memberikan ilmu sedikit-sedikit yang lama-lama menjadi banyak.” (HR Bukhari).
Menjadi seorang guru sesuai tuntunan Islam adalah sebagaimana sabda Rasulullah SAW, “Sesungguhnya Allah, malaikat serta penghuni langit dan bumi sampai-sampai semut yang berada di sarangnya dan juga ikan senantiasa memintakan rahmat kepada orang yang mengajarkan kebaikan kepada manusia.” (HR Tirmidzi).
Juga dalam hadis yang diriwayatkan oleh Ibnu Mas’ud RA, “Tidak ada hasad (iri) yang dibenarkan kecuali terhadap dua orang, yaitu terhadap orang yang Allah berikan harta, ia menghabiskannya dalam kebaikan dan terhadap orang yang Allah berikan ilmu, ia memutuskan dengan ilmu itu dan mengajarkannya kepada orang lain.” (HR Muslim).
Di antara peran yang paling penting dari seorang guru adalah membentuk kepribadian muridnya. Oleh sebab itu, wajib bagi guru untuk menjadi teladan yang baik bagi muridnya. Teladan yang baik adalah salah satu cara yang paling jitu dalam pembentukan kepribadian murid. Wallahu’alam bi showab.

