Islam Berikan Solusi di Resesi Ekonomi Saat Pandemi

0
524

Oleh: Siti Murlina, SAg.

Pandemi Covid-19 yang kini sudah mencapai 18 juta kasus di seluruh dunia, telah memukul perekonomian sebagian besar negara, bahkan hingga mengalami resesi. Saat ini sudah beberapa negara yang resmi masuk jurang resesi.

Adapun negara yang akan diperkirakan telah mengalami resesi pertumbuhan ekonomi global adalah Ameŕika Serikat, Jerman, Prancis, Italia, Korea Selatan, Jepang, Hongkong, Singapura, dan Philipina, termasuk Indonesia juga masuk ke jurang resesi ekonomi.

Jika dibanding kuartal l tahun 2020 yang tercatat 2,97 persen, perekonomian Indonesia juga tercatat minus 4,19 persen (quarter to quarter). Dua kontraksi beruntun tersebut secara QtQ membuat Indonesia bisa dibilang sudah masuk ke fase teknikal (tehnical recession). Pasalnya pada kuartal l tahun 2020 secara QtQ Pendàpatan Daerah Bruto (PDB) Indonesia minus 4,1 persen.

Dàri data di atas bahwa dapat dipahami bahwa resesi merupakan tipikal dalam sistem kapitalisme, terutama yàng berasal dari sistem keuangannya. Banyak transaksi pada sektor non riil. Dengan sistem keuangan tersebut telah menjadi sarana spekulasi. Untuk mengejar profit dari investasi pada deposito dan surat-surat berharga di pasar modal.

Gelembung asèt finansial yang meledak juga menjadi penyebab resesi. Bentuknya harga aset yang menjadi objek spekulasi, seperti saham dan properti mengalami penurunan aset secara tajam.

Membuat para investor merugi terutama perbankan, perusahaan asuransi dan pihak-pihak yang menginvestasikan modal mereka pada aset tersebut. Dampaknya, perusahaan berguguran, pengangguran naik dan pendapatan masyarakat menurun tajam pula.

Belum lagi kebijakan para penguasa yang mencla-mencle, yàng berlindung di balik alasan Pandemi Virus Covid-19. Sehingga berharap resesi bisa dimaklumi. Padahal bukan kali ini saja Indonesia mengalami resesi, tapi sudah berkali-kali. Dilansir dari Kompas.com, menurut Drajad H. Wibowo, resesi pertumbuhan ekonomi Indonesia sudah dimulai tahun 1998.

Terhitung sejak presiden Jokowi memerintah Indonesia sudah enam kali mengalami resesi. Pemerintah juga menyebut Pembatasan Sosial Berskala Besar (PSBB). Sebàgai pemicu pertumbuhan yang serba minus ini. Ini adalah pandangan yang sangat keliru.

Dikarenakan pemerintah salah urus dan salah prioritas yang menyebabkan kondisi ini. Sedangkan pandemi ini hanya memperparah keadaan saja.
Seharusnya kesehatan masyarakat menjadi prioritas utama, ekonomi menyusul. Selama sistem kapitalisme masih diterapkan, selama itu pula Indonesia mengalami resesi.

Tentu dengan kondisi yang berulang sudah saatnya negara- negara di dunia ini, meninggalkan sistem kapitalisme yang berdasarkan ribawi, judi dan non riil. Dengan menggantikannya dengan sistem ekonomi Islam yang memiliki pondasi yang kuat dan solid. Berdasarkan ekonomi sektor riil, tidak akan mengalami ekonomi gelembung (sistem ribawi).

Dalam QS. al-A’raf:96, Allah telah berfirman:
وَلَوْ أَنَّ أَهْلَ الْقُرَىٰ آمَنُوا وَاتَّقَوْا لَفَتَحْنَا عَلَيْهِمْ بَرَكَاتٍ مِنَ السَّمَاءِ وَالْأَرْضِ وَلَٰكِنْ كَذَّبُوا فَأَخَذْنَاهُمْ بِمَا كَانُوا يَكْسِبُونَ

“Dan sekiranya penduduk negeri beriman dan bertakwa, pasti Kami akan melimpahkan kepada mereka berkah dari langit dan bumi, tetapi ternyata mereka mendustakan ( ayat-ayat Kami),maka Kami siksa mereka sesuai dengan apa yang telah mereka kerjakan. (TQS. Al A’raf: 96)

Jelas sekali ayat diatas mengambarkan bahwa Allah memerintahkan agar beriman dan bertakwa, datangnya pertolongan Allah. Tentu saja riba dan judi harus dihilangkan. Membentuk ekonomi riil dengan menggunakan standar mata uang emas dan perak.

Kepemilikan umum sepeŕti tambang harus dikembalikan pada pemiliknya yaitu rakyat. Jika seluruh potensi Sumber Daya Alam (SDA) di Indonesia dikelola oleh negara dan hasilnya dikembalikan untuk kemaslahatan rakyat. Maka rakyat akan terpenuhi kebutuhannya. Ekonomi akan bergerak dan pertumbuhannya positif. Indonesia hanya akan bisa lepas dari resesi ketika dengan menerapkan ekonomi Islam. Menjadi negeri baldatun thayyibatun warobbun ghafur. *** Wallahu a’lam bishowab

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here