Oleh: Rita Bunda Suci
Lebaran semakin dekat, namun sayang, dimasa pandemi seperti ini masyarkat latah akan kesehatan dirinya sendir. Banyaknya masyarakat yang berbelanja untuk memenuhi kebutuhan lebaran, membuat kehawatiran akan cluster baru penyebaran Covid-19.
Dilansir, Pasar Tanah Abang di Jakarta Pusat kembali disesaki oleh pengunjung pada minggu 3 mei 2021 lalu, yang tercatata 100.000 pengunjung (lipitan6.com). Sampai akhirnya Polda Metro Jaya turun tangan untuk mengatasi Kerumunan tersebut, dan Sekjen Daerah (Sekda) DKI Jakarta Marullah Matali, menyatakan Pemprov akan mengurangi jumlah pintu masuk ke Pasar Tanah Abang. Yang awalnya terdapat 20 pintu masuk, dan akan di buat beberapa pintu strategis, yang nanti akan ditugaskan beberapa pasukan untuk menjaga sirkulasi.
Ledakan pengunjung dipasar atau di Mal diberbagai wilayah di Indonesia, memang dipicu oleh kebijakan larangan mudik pemerintah sebelum tanggal 6 ini. Membuat masyarakat belanja diwaktu libur sabtu dan minggu, apalagi setelah usai gajian dan mendapat THR. Memang sudah difrediksi oleh beberapa peneliti, akan adanya kenaikan penularan di momen menyambut lebatan tahun ini.
Senada dengan kebijakan Sri Mulyani Menteri Keuangan, pada saat menyampaikan keterangan pers APBN kamis lalu. Pada kesempatan itu, Sri menghimbau masyarakat untuk tetap menyambut lebaran dengan suka cita dan tetap berlanja. Pemerintah dengan menyiapkan program Hari Belanja Nadional (Harbolnas) dengan ongkos kirimnya disubsidi oleh pemerintah.
Kebijakan yang dianggap aneh oleh sebagian besar netizen, di saat masyarakat sedang dihimpit kesulitan untuk memenuhi kebutuhan sehari – hari, pemerintah malah menyarankan masyarakat belanja dalam rangka meningkatkan perekonomian negara.
Sungguh kebijakan yang paradoks, disaat kebijakan pemerintah yang tidak pro terhadap perekonomian rakya, melainkan lebih pro kepada perekonomian kapital. Temasuk kebijakan larangan mudik sebagai tradisi masyarakat, namun disisi lain pariwisata dan pusat perbelajaan dibuka luas, lagi – lagi demi menopang perkonomian negara.
Inilah kebijakan yang berlandaskan pada sistem kapitalis sekular, setiap kebijakan dinilai untuk mencari keuntungan semata. Penguasa tidak bersungguh-sungguh ingin memutus rantai penyebaran wabah. Terbukti, sejak awal kemunculan wabah dari negeri tirai bambu ini, pemerintah tidak bersegera mengambil tindakan yang tegas. Bahkan pemerintah membuka keran luas bagi TKA Cina, tanpa mempertimbangkan perekonomian dan keselamatan nyawa rakyatnya.
Sungguh berbeda bagaiman Islam memberikan solusi berupa lockdown wilayah. Lockdown memiliki arti yang sama dengan isolasi. Isolasi terkait pencegahan suatu wabah ternyata pernah terjadi di zaman Rasulullah SAW. Isolasi terhadap orang yang sedang menderita penyakit menular pernah dianjurkan Rasulullah.
Di zaman Rasululullah SAW pernah terjadi wabah kusta yang menular dan mematikan sebelum diketahui obatnya. Kala itu, Rasulullah SAW memerintahkan untuk tidak dekat-dekat atau melihat orang yang mengalami kusta atau lepra.
Dalam sebuah hadist, Rasullah Shallallahu’alaihi Wasallam bersabda:
لاَ تُدِيمُوا النَّظَرَ إِلَى الْمَجْذُومِينَ
Artinya: “Jangan kamu terus menerus melihat orang yang menghidap penyakit kusta.” (HR Bukhari)
Nabi Muhammad SAW juga pernah memperingatkan umatnya untuk tidak dekat dengan wilayah yang sedang terkena wabah. Dan sebaliknya jika berada di dalam tempat yang terkena wabah dilarang untuk keluar.
Seperti diriwayatkan dalam hadits berikut ini:
إِذَا سَمِعْتُمْ بِالطَّاعُونِ بِأَرْضٍ فَلاَ تَدْخُلُوهَا، وَإِذَا وَقَعَ بِأَرْضٍ وَأَنْتُمْ بِهَا فَلاَ تَخْرُجُوا مِنْهَا
Artinya: “Jika kamu mendengar wabah di suatu wilayah, maka janganlah kalian memasukinya. Tapi jika terjadi wabah di tempat kamu berada, maka jangan tinggalkan tempat itu.” (HR Bukhari)
Hal yang juga pernah terjadi pada masa khalifah Umar bin Khattab, beliau meminta masukan kepada Amru bin As cara memindahkan interaksi, yang akhirnya tidak lama kemudian wabah tersebut bisa diselesaikan. Selain itu Umar bin Khatab membangun pusat penelitian dan pusat pengobatan bagi masyarakat yang terjangkit virus.
Pada masa kejayaan peradaban Islam, penguasa dan umat sama – sama memiliki peran penting dalam mewujudkan kesejahteraan masyarakat. Adanya standarisasi pemahaman dan keyakinan masyarakat kepada penguasa, sehingga masyarakat mudah diatur. Bahkan ketika negara sedang mengalami kondisi yang sulit, umat bersama mendukung dan membantu negara untuk keluar dari kondisi tersebut.
Penguasa dalam pandangan Islam adalah pengurus urusan umat, maka negara wajib menjamin terpenuhinya kebutuhan rakyatnya seperti pangan, sandang dan papan, termasuk kebutuhan kesehatan, pendidikan dan keamanan. baik pada masa pandemi atau kondisi normal. Maka tidak heran, kejayaan islam bisa bertahan selama 14 abad dan mengusai sepetiga dunia dalam kejayaan yang Rahmat lil alamin.
Dengan demikian, butuhnya kebijakan pemerintah yang selaras, untuk mengantisipasi lonjakan penularan wabah Covid-19 ini, agar wabah tidak belarut-larut. Tentunya tidak lain, dengan penerapan hukum Islam secara Kaffah dalam segala kehidupan baik dalam rana individu, masyarakat atau pun bernegara.
Wallahubissawab….

