Menutup Aurat Sejak Dini dicaci, Umbar Aurat dipuji, Maunya apa Sih?

0
301

Oleh: Novita Mayasari, SSi

“Apa-apaan sih orang tuanya kok tega anaknya dipakaikan busana Muslim, suka banget memaksakan kehendak, kasihan anaknya kepanasan tuh!”

“Wah Lucu, gemesin banget tuh si adeknya pakai baju sexy begitu. Pingin bawa pulang deh”.

Kira-kira begitulah komentar Netizen yang gemar sekali mengomentari anak kecil yang berhijab dan anak kecil yang berpakaian sexy.

Entah apa yang merasuki pemikiran umat saat ini, standar mana yang benar mana yang salah pun terbolak balik. Miris memang melihat Negeri yang katanya mayoritas Islam, tetapi anti dengan Islam itu sendiri.

Hal senada pun dilakukan oleh salah satu media asal Jerman, Deucth Welle (DW) Indonesia. Melalui cuitan di akun twitternya, “Apakah anak-anak yang dipakaikan #jilbab itu memiliki pilihan atas apa yang ia kenakan?” (25/09 2020). Yang mana sebagai keterangan konten video mereka.
Di video tersebut, DW Indonesia menyoal fenomena berhijab sejak dini di Indonesia.

DW Indonesia juga mewawancarai feminis muslim, Darol Mahmada tentang dampak sosial anak yang diharuskan memakai hijab sejak kecil.

Menurut Darol Mahmada, wajar-wajar saja seorang ibu atau guru mengharuskan anak memakai hijab sejak kecil.

“Tetapi kekhawatiran saya sebenarnya lebih kepada membawa pola pikir si anak itu menjadi eksklusif karena dari sejak kecil dia ditanamkan untuk misalnya “berbeda” dengan yang lain,” kata Darol Mahmada. (Jurnalgaya.com, 26/09/2020)

Selain itu DW Indonesia juga mewawancarai psikolog yang mengulas dampak negatif yang akan dialami anak jika berhijab dari kecil.

“Mereka menggunakan atau memakai sesuatu tapi belum paham betul konsekuensi dari pemakaiannya itu. Permasalahannya apabila di kemudian hari bergaul dengan teman-temannya, kemudian agak punya pandangan yang mungkin berbeda, boleh jadi dia mengalami kebingungan,” ucap Rahajeng Ika, psikolog tersebut. (Jurnalgaya.com, 26/09/2020)

Tentu saja DW Indonesia, menuai hujatan dari netizen karena dianggap membuat konten islamofobia.

Salah satu anggota DPR pun menunjukkan ketidaksukaan terhadap postingan DW Indonesia. “Liputan ini menunjukkan sentimen “islamofobia” n agak memalukan utk kelas @dwnews,” kata anggota DPR yang juga Wakil Ketua Umum Partai Gerindra, Fadli Zon melalui akun Twitternya, @fadlizon.

Begitulah, kaum liberalis sah-sah saja mengeluarkan narasi jahat, memfitnah simbol-simbol islam, meracuni kaum muslim dengan pikiran-pikiran yang jahat sungguh semua itu membahayakan kaum muslim dan apa yang diungkapkan kaum liberalis itu sungguh tidak masuk akal.

Justru di dalam Islam, kita diperintahkan untuk melatih anak-anak kita sejak dini. Dengan begitu, insyaallah kelak saat mereka baligh, mereka sudah paham dengan hukum-hukum Islam dan siap istiqamah dalam menjalankannya, tentunya dengan ridho dan ikhlas.

Tentu, kesemua itu akan terlaksana ketika dilakukan pembiasaan semenjak dini kepada anak-anak. Dengan pembiasaan kebaikan yang terus menerus, menanamkan adab dan pemahaman yang diberikan sejak dini kepada anak-anak itu adalah suatu bentuk tanggung jawab orang tua.

Semua dilakukan karena anak adalah titipan dari sang Khaliq, tentu di yaumulhisab(hari perhitungan) nanti, kita sebagai orang tua akan dimintai pertanggungjawaban atas anak-anak kita.

Sebagaimana firman Allah سُبْحَانَهُ وَ تَعَالَى :

كُلُّ نَفۡسٍ ۢ بِمَا كَسَبَتۡ رَهِيۡنَةٌ

Setiap orang bertanggung jawab atas apa yang telah dilakukannya (QS. Al- Muddaassir ayat 38)

Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

“Setiap engkau adalah pemelihara, dan setiap engkau akan dimintai pertanggungjawaban mengenai apa yang menjadi tanggung jawab pemeliharaannya:

Seorang pemimpin adalah pemelihara, ia akan dimintai pertanggungjawaban mengenai apa yang menjadi tanggung jawab pemeliharaannya. Seorang laki-laki juga pemelihara dalam keluarganya, ia akan dimintai pertanggungjawaban mengenai apa yang menjadi tanggung jawab pemeliharaannya.
Dan seorang perempuan adalah pemelihara dalam rumah suaminya, ia akan dimintai pertanggungjawaban mengenai apa yang menjadi tanggung jawab pemeliharaannya.” (HR al-Bukhâri)

Oleh karena itu, jelas sekali pembiasaan sangat berbeda dengan pemaksaan, sebagaimana yang banyak dilontarkan oleh kaum liberalis.

Justru penyesatan-penyesatan kaum liberalis yang serba bebas baik dalam bergaul, berpendapat bahkan berbusana itulah yang nantinya kelak membuat generasi muda rusak, tidak tahu adab, tidak menghormati orang tua, guru, terjerumus pada pergaulan bebas, dan jauh dari nilai-nilai agama.

Tentu, serangan-serangan yang memojokan Islam, fitnah-fitnah terhadap islam, narasi jahat, dan serangan-serangan lainnya terhadap ajaran Islam tidak akan terjadi di dalam sistem Khilafah.

Khilafah Islam merupakan konsep pemerintahan yang didasarkan pada akidah Islam, dimana seluruh aspek bermasyarakat dan bernegara diatur dengan syariat Islam.
Khilafah lah yang nanti akan menjaga umat, yang membentengi umat dari segala hal yang akan merusak aqidah, akhlak dan ajaran Islam.

Dengan pelaksanaan aturan Islam secara kâffah oleh negara, maka negara akan menjamin kesejahteraan ibu dan anak-anaknya, baik dari aspek keamanan, ketenteraman, kebahagiaan hidup, dan kemakmuran. Dengan begitu, kemuliaan kaum perempuan sebagai pilar keluarga dan masyarakat terjaga, sehingga mereka mampu memaksimalkan dan mengoptimalkan berbagai perannya, baik sebagai istri, ibu, maupun sebagai anggota masyarakat.

Di sisi lain, anak-anak pun mampu menikmati tumbuh kembang yang sempurna dalam binaan penuh dari seorang ibu yang cerdas dan terdidik. Bukan hanya itu pemenuhan hak-hak mendasarnya pun akan dijamin oleh negara, baik kebutuhan ekonominya, pendidikan, kesehatan maupun keselamatan diri dan jiwanya. Dan yang lebih hebatnya jaminan ini terus berlangsung hingga anak tumbuh dewasa.

Dengan penuhnya kebahagiaan dan kemakmuran, maka seorang ibu akan mampu melahirkan generasi umat yang cemerlang, berkepribadian islam, santun kepada orangtua dan guru, sehingga kemudian berhasil menjadi penjaga kemuliaan Islam yang terpercaya.

Dengan begitu, para ibu bisa menikmati karunia Allah berupa kemuliaan menjadi seorang ibu, mendidik buah hati dengan penuh ketenangan tanpa harus dipusingkan dengan
segala kesempitan ekonomi, kekerasan dalam rumah tangga, dan pengaruh buruk lingkungan.

Wallahu a’lam bishshawwab.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here