Rapuhnya Ketahanan Keluarga dalam Sistem Demokrasi Sekularisme

0
187

Oleh: Hj Padliyati Siregar ST

Tidak dapat kita pungkiri Covid-19 ini tidak hanya berdampak buruk bagi kesehatan, tetapi juga berpengaruh pada kehidupan sosial dan ekonomi masyarakat.

Tidak sedikit keluarga yang kembang kempis memikirkan masalah keuangan keluarga, karena banyak para kepala keluarga yang akhirnya dirumahkan sementara, bahkan di-PHK.

Dilansir dari SRIPOKU.COM, PALEMBANG – Kasus kematian dengan cara bunuh diri di Palembang saat ini menjadi perhatian khusus bagi masyarakat.

Hal ini dikarenakan dalam tempo sepekan, setidaknya ada empat warga Palembang ditemukan tidak bernyawa akibat bunuh diri dengan cara gantung diri.

Angka tersebut terbilang cukup tinggi di pembuka tahun 2021 ini. Dari informasi yang didapat, kebanyakan korbani nekat mengakhiri hidup dikarenakan tak sanggup menanggung beban hidup.

Terlebih lagi di masa Pandemi Covid-19 saat ini, hampir seluruh masyarakat terdampak baik dari segi ekonomi maupun kesehatan. Mardiah Hayati, M. Psi salah seorang psikolog dan akademisi di Palembang mengatakan, penyebab orang nekat mengakhiri hidupnya dikarenakan faktor beban mental yang berat dihadapi.

“Ya kebanyakan karena permasalahan pribadi, akhirnya nekat untuk melakukan perbuatan yang dilarang itu,” kata Mardiah, Minggu (16/1/2021).

Rata-rata penyebab terjadi bunuh diri karena faktor ekonomi yang kemudian berpengaruh ke beban mental seseorang, terlebih lagi di masa Pandemi Covid-19 saat ini.

Kegagalan negara menjamin kehidupan adil, sejahtera, damai, tenteram, penuh rasa aman akibat penerapan sistem demokrasi sekuler memunculkan tekanan ekonomi, fisik, mental, dan psikologis masyarakat.

Ditambah lagi sistem kehidupan saat ini didominasi aspek materi, menjadikan nilai-nilai ketakwaan dalam masyarakat semakin melemah.

Pada akhirnya, memunculkan riak-riak dalam kehidupan yang mewarnai maayarakat yang selanjutnya berdampak pada Pysikologis nya yang merasa tidak punya arti dalam kehidupannya.

Jika ada yang beranggapan masalah saat ini hanya muncul dari kesalahan individu maka itu adalah pandangan yang parsial semata. Ketidakstabilan SDM, kerusakan moral, dan beragam masalah lainnya bukan sekadar salah individu, melainkan ada peran masyarakat dan negara.

Sistem sekuler kapitalis yang mengungkung masyarakat kita saat ini membuat kehidupan serba sempit dan tanpa sandaran, segala sesuatu diukur berdasarkan materi.

Hubungan makhluk dengan Al-Khalik Al Mudabbir sengaja dijauhkan sejauh-jauhnya, keyakinan akan adanya pertolongan dari Yang Maha Penolong pun semakin pupus dari dalam diri setiap manusia.

Bersamaan dengan itu, lemahnya pemahaman masyarakat terhadap ajaran Islam kaffah menjadi salah satu faktor utama kenapa kondisi ini bisa terjadi.

Ajaran Islam ritual yang dikukuhi mayoritas masyarakat, lambat laun menjadikannya kehilangan power sebagai penuntun dan pegangan hidup. Dengan minimnya pemahaman Islam kaffah, tak sedikit individu muslim yang mengalami disorientasi hidup, hingga mereka mudah menyerah pada keadaan.

Wajar pada akhirnya, ketika berbagai masalah mendera dalam individu, masyarakat, tidak sedikit justru berakhir pada kasus bunuh.

Islam mengajarkan manusia untuk tidak berputus asa dari rahmat Allah. Dalam Islam, Allah SWT memberikan manusia cobaan, ujian atau musibah merupakan tanda Allah sayang pada hamba-Nya dan agar manusia memperoleh keberkahan dan rahmat. Keberkahan dan rahmat ini hanya diperoleh oleh mereka yang tetap sabar menghadapi dan menjalani cobaan, ujian atau musibah dihadapi.

Dan sebaiknya kita juga harus mengetahui hukum berputus asa menurut Islam. Allah SWT berfirman dalam Qur’an Surat Yusuf ayat 87:
يٰبَنِيَّ اذْهَبُوْا فَتَحَسَّسُوْا مِنْ يُّوْسُفَ وَاَخِيْهِ وَلَا تَا۟يْـَٔسُوْا مِنْ رَّوْحِ اللّٰهِ ۗاِنَّهٗ لَا يَا۟يْـَٔسُ مِنْ رَّوْحِ اللّٰهِ اِلَّا الْقَوْمُ الْكٰفِرُوْنَ

Wahai anak-anakku! Pergilah kamu, carilah (berita) tentang Yusuf dan saudaranya dan jangan kamu berputus asa dari rahmat Allah. Sesungguhnya yang berputus asa dari rahmat Allah, hanyalah orang-orang yang kafir.”

Diriwayatkan dari Shuhaib bin Sinan Radhiyallahu ‘Anhu bahwa Rasulullah bersabda: “Sungguh menakjubkan keadaan orang mukmin, karena semua urusannya adalah baik. Jika ia mendapatkan kesenangan lalu ia bersyukur, maka yang demikian itu lebih baik baginya, dan ketika ia tertimpa kesusahan lalu ia bersabar, maka yang demikian itu lebih baik baginya.” (HR. Muslim).

Pemahaman Islam yang benar dan menjadi pondasi serta berpengaruh hanya ada pada sistim pemerintahan yang diridhoi Allah SWT, yaitu Khilafah Islamiyah. Karenanya, ketika saat ini Khilafah belum tegak, inilah saatnya bagi kita, umat Islam untuk terus berjuang bersama, bergandengan tangan mengupayakan tegaknya kembali Khilafah Islamiyah di muka bumi ini.

Karena hanya dengan Khilafah, kita akan hidup mulia dan sejahtera. Hanya kepada Allah SWT lah kita berlindung dan hanya kepada-Nya kita memohon pertolongan. ***

Wallahu a’lam bishshawwab.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here