Emakku Versus Guruku

0
316

Oleh : Irohima

Gerakan isolasi dan stay at home di masa pandemi Covid 19 yang mengharuskan para pelajar mulai dari tingkat SD hingga universitas melakukan pembelajaran online menyisipkan masalah tersendiri bagi para ibu yang mendadak mendapat pekerjaaan tambahan sebagai pengganti guru di sekolah.
Meski sepintas nampak menyenangkan karena belajar di rumah tak perlu mengenakan seragam, bisa mengerjakan tugas sambil ngemil bahkan terkadang sang anak belum mandi, namun pembelajaran di rumah bukanlah sesuatu yang mudah bagi para orang tua khususnya bagi para ibu.
Banyak cerita dan meme lucu curhatan para ibu yang beredar di medsos. Curhatan betapa stresnya mereka dengan kondisi pekerjaan rumah yang meningkat dua kali lipat, belanja yang over budget, gagap teknologi, kewalahan membagi waktu ditambah lagi harus menjadi pengawas pengganti guru di sekolah selama di rumah.

Metode belajar daring atau memberikan tugas via online tentu mau tak mau menggunakan gawai dan juga aplikasi yang justru menjadi kendala bagi sebagian orang tua. Banyak di antara para orang tua yang masih gagap teknologi. Banyak juga di antara orang tua yang tak mengerti materi pelajaran sang anak. Ini mencerminkan ketidaksiapan kaum ibu menyiapkan bahan pembelajaran bagi anak di rumah.

Masalah gagap teknologi bukan hanya satu satunya masalah yang terjadi pada sebagian orang tua, ketiadaan gawai juga menjadi salah satu faktor home learning tak bisa berjalan mulus. Bayangkan jika satu keluarga mempunyai lebih dari 2 anak yang harus belajar online namun tidak mempunyai gawai, bisa dipastikan sang anak akan tertinggal banyak dalam pelajaran.

Tugas yang banyak diberikan pada siswa juga memicu stres pada anak dan juga ibu. Terbukti banyaknya aduan yang masuk ke KPAI. ”Kemungkinan besar para guru memahami home learning adalah dengan memberikan tugas tugas secara online dan pengumpulannya pun online. Alhasil para siswa dan orang tua banyak yang mengeluh,” ujar komisioner KPAI, Retno Listyarti, dalam siaran tertulisnya, Rabu (18/3/2020).

Retno mengatakan semua guru bidang studi memberikan tugas yang butuh dikerjakan lebih dari 1 jam, akibatnya tugas jadi menumpuk dan menimbulkan kelelahan. Padahal menurut Retno Home Learning bermaksud memberikan aktivitas belajar rutin pada siswa agar tetap terbiassa belajar dan menjaga keteraturan. KPAI juga menyayangkan Kementrian Pendidikan dan Kebudayaan serta dinas pendidikan terkait tidak melakukan edukasi terdahulu kepada guru dan sekolah terkait kebijakan belajar di rumah. Home learning dan online learning yang diharapkan ialah guru dan murid berinteraksi secara virtual layaknya interaksi seperti hari hari biasa.

Dampak dari pola pembelajaran yang berubah sejak adanya kebijakan home learning terkait upaya memutus mata rantai penyebaran virus covid 19 dan ketidaksiapan kaum ibu menghadapi kondisi ini adalah imbas dari isu kesetaraan gender yang selama ini digaungkan para kaum feminis, banyaknya kaum wanita atau ibu yang keluar rumah meninggalkan peran serta tugas utama seorang ibu dirumah sebagai ummu warobatul bait dan juga ummu madrosatul ulla telah memalingkan fungsi keibuan sebagai pendidik dan pencetak generasi tangguh bagi anak anaknya. kegagapan kaum ibu mejadi guru dadakan adalah potret dimana selama ini pendidikan anak anak terkadang sepenuhnya diserahkan kepada pihak sekolah.

Tak ada perhatian dan komunikasi interaktif serta kerja sama antara guru dan orangtua. Padahal sejatinya membentuk karakter anak dan mendidik anak bukan hanya menjadi tugas seorang pendidik sepenuhnya namun juga menjadi tanggung jawab orang tua. Isu kesetaraan gender yang mengondisikan seorang ibu lebih memilih keluar rumah dan meninggalkan fungsinya adalah buah dari sistem sekuler dan kapitalis yang hanya menjadikan perempuan sebagai komoditas dan menyalahi kodratnya dengan dalih pemberdayaan perempuan serta persamaan hak dengan kaum pria.

Sistem pendidikan ala kapitalis dan sekuler juga mempengaruhi output generasi. Kurikulum yang sering berganti, serta berbagai kebijakan yang diterapkan cukup membuat wajah pendidikan kita sering berubah warna dan menyisakan berbagai persoalan yang tak kunjung selesai. Tuntutan pendidikan sekuler kapitalis yang lebih berorientasi pada materi serta ketatnya persaingan yang timbul akibat standar baku yang berlaku di sistem kapitalis bahwa generasi yang hebat adalah generasi yang sesuai dengan tuntutan pasar, mendorong para orang tua untuk tidak hanya menyekolahkan anak namun juga membebankan anaknya dengan berbagai kegiatan pembelajaran hingga sering membuat anak kelelahan dan tertekan.

Standar pendidikan yang sering berubah dan kebijakan yang berganti di setiap zamannya membuat para pelaku pendidikan maupun orang tua terkadang gagap dan tidak siap menghadapi kondisi seperti sekarang ini dimana terjadi perubahan pola pembelajaran yang harus diterapkan karena wabah yang melanda.

Masa karantina yang diberlakukan sekarang ini hendaklah kita sikapi dengan bijak , tak perlu panik namun harus tetap waspada. Gerakan stay at home bisa kita jadikan sebagai sarana untuk lebih mendekatkan diri kepada keluarga dan merupakan kesempatan yang besar bagi para ibu untuk menanamkan nilai nilai islam dalam rangka membentuk kepribadian anak-anak yang selama ini mungkin terabaikan.

Menjadi guru dadakan diharapkan akan menimbukan kesadaran bahwa pendidikan anak bukanlah tanggung jawab guru semata namun juga butuh peran orang tua. Merasa rumitnya menjadi guru pengganti juga diharapkan bisa menumbuhkan rasa hormat dan menghargai para pendidik yang selama beberapa tahun terakhir sering dianggap sebelah mata karena terdapat banyak kasus yang merendahkan profesi guru. Para orangtua khususnya para ibu juga diharapkan menyadari betapa seorang ibu punya kedudukan dan kewajiban yang vital dalam sebuah keluarga, dan kewajiban seorang ibu takkan bisa terlaksana jika ia bekerja diluar rumah.

Seorang ibu dalam Islam mempunyai kedudukan mulia. Hingga Rasulullah SAW pernah bersabda bahwa surga berada di bawah telapak kaki ibu. Dalam Islam Ibu adalah pencetak generasi tangguh yang bertugas menjaga dan mendidik anak anaknya serta menanamkan nilai-nilai agama. Islam menekankan bahwa pendidkan pertama yang didapat dari seorang anak hendaklah dari ibunya, bukan diserahkan pada orang lain. Pendidikan awal yang sejak dini diberikan sang ibu akan memberikan dampak yang luar biasa pada perkembangan tumbuh kembang anak. Peran ibu yang dominan akan mendorong terbentuknya mental yang kuat dan siap dalam menghadapi situasi apapun termasuk pandemi ini, karena kecerdasan, keuletan,dan perangai sang ibu adalah faktor dominan pembentuk karakter anak.

Wallahualam bishawab

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here