Kesetaraan Gender Upaya Barat Hancurkan Keluarga Muslim

0
762

Oleh : Hj.Padliyati Siregar, ST

PRESIDEN Joko Widodo mengangkat isu terkait akses pendidikan dan pemberdayaan perempuan saat berbicara pada Sesi III KTT G20 Osaka dengan tema Addressing Inequalities & Realizing an Inclusive and Sustainable World, Sabtu, 29 Juni 2019 lalu.

“Kita semua paham bahwa akses pendidikan dan pemberdayaan perempuan merupakan elemen penting untuk mencapai target Sustainable Development Goals. Dan itu memerlukan kerja sama kita semua,” kata Presiden di depan para pemimpin negara anggota G20.

Terkait pendidikan, Presiden menegaskan perlunya penyesuaian sistem pendidikan saat ini yang menurutnya masih mengikuti pola pendidikan yang lama. Padahal, di era digital seperti sekarang ini, Presiden Jokowi menyadari adanya perubahan terkait pola mental dan pola pergaulan anak-anak di abad ke-21.

“Anak kita sekarang hidup di eranya YouTube Video yang rata-rata panjangnya hanya 12 menit, di eranya Instagram Video atau Twitter Video yang rata-rata panjangnya 6 menit atau bahkan sependek 1 menit. Dulu, anak-anak bergaul dengan misalnya naik sepeda bersama, sekarang anak kita bergaul dengan ramai-ramai main video game “Massive Multi-Player Online Game” seperti Fortnite dan Minecraft,” ujar Presiden.

Kemudian terkait dengan partisipasi perempuan, Presiden Jokowi mengatakan bahwa peran perempuan di dalam ekonomi, politik dan kehidupan bermasyarakat masih jauh dari potensi yang ada. Padahal menurut Presiden, di era berbagai tren yang dipicu digitalisasi dan globalisasi, wanita bisa lebih unggul daripada pria.

“Perempuan lebih rajin, lebih tekun, lebih detail, lebih sabar, dan lebih team-work daripada kita. Karena e-Commerce dan teknologi membutuhkan karakter seperti itu, sehingga meningkatkan partisipasi perempuan dalam bisnis, ekonomi dan politik otomatis akan meningkatkan pertumbuhan ekonomi dan daya saing nasional di era digital,” ungkap Presiden.

Oleh sebab itu, Presiden Jokowi mengatakan, ke depan pemerintahannya akan fokus pada pembangunan sumber daya manusia. Indonesia, menurut Presiden, memiliki 68,6 persen atau sekitar 181,3 juta orang berada pada usia produktif.

“Agar penduduk usia produktif tersebut menjadi bonus demografi diperlukan sumber daya manusia yang berkualitas dan berdaya saing,” ucap Presiden.

Selain itu di tingkat kawasan, Presiden juga menyampaikan bahwa para pemimpin ASEAN baru saja mengadopsi “ASEAN Outlook on Indo-Pacific” yang berisi sikap, cara pandang dan kesiapan ASEAN untuk bekerjasama dengan pihak mana pun, yang merupakan kontribusi ASEAN bagi upaya menjaga stabilitas dan perdamaian serta menciptakan pembangunan yang inklusif dan berkesinambungan.

“Kerja sama jelas diperlukan, pertama untuk memecahkan masalah sumber pendanaan yang tidak hanya dari pemerintah, tapi dari swasta, melalui inovasi keuangan seperti blended finance. Kedua, kerja sama dalam sertifikasi keahlian atau standar kompetensi. Semakin sertifikasi dapat diterima secara regional, akhirnya secara internasional semakin besar manfaat dari pelatihan vokasi dan keterampilan praktis buat pekerja kita,” ucap Presiden Jokowi mengakhiri sambutannya. (Sumber: Sekretariat Presiden)
https://kemlu.go.id/portal/id/read/417/berita/presiden-jokowi-angkat-isu-pemberdayaan-perempuan-di-hadapan-para-pemimpin-g20

Upaya Barat untuk menghancurkan keluarga muslim dengan melibatkan perempuam dalam mewujudkan kesetaraan gender,ironisnya kesetaraan gender adalah pemikiran.batil sehingga mustahil untuk terwujud karena bertentangan dengan fitrah manusia dan mengakibatkan kerusakan masyarakat.

Yahudi dan Nasrani, saat ini diwakili pemerintahan Barat. Dalam ketidakridhoannya terhadap Islam, tak henti-hentinya mereka melancarkan perang. Selain secara fisik seperti yang terjadi di Palestina, Suriah, dll. Ada juga perang pemikiran dan perang peradaban (ghazwu al fikr wa ghazwu ats staqofiyah).

Karena itulah Barat akan membuat kaum muslimin buta politik (apolitis), sehingga tidak mampu bersikap kritis terhadap semua pelanggaran syariat. Akibatnya, penjajahan Barat akan berjalan mulus. Situasi inilah yang saat ini menimpa Islam dan kaum muslimin. Kondisi apolitis membuat kaum muslimin tidak memahami berbagai rencana jahat yang disusun Barat dalam menghancurkan muslim termasuk keluarga mereka. Di antara rencana jahat Barat itu adalah agenda untuk mewujudkan keadilan dan kesetaraan gender.

Saat ini, dunia Islam berada dalam arus yang sama dengan negara-negara kafir dalam menderaskan kesetaraan gender. Kaum muslim dan muslimah tidak menyadari kebatilannya karena madu yang membalutnya teramat manis, menyembunyikan racun yang mematikan. Di balik jargon-jargon pemberdayaan perempuan, pengentasan kemiskinan perempuan, kesetaraan perempuan, penghapusan diskriminasi perempuan, menghentikan kekerasan terhadap perempuan dan sebagainya, sesungguhnya ada tujuan besar yang sudah dirancang Barat. Tujuan semua ide-ide gender itu tiada lain adalah untuk tadmir al usroh al muslimin. Ya, untuk menghancurkan keluarga muslim.

Strategi Penghancuran Keluarga Muslim Melalui Ide Gender
Organisasi-organisasi lokal di Indonesia seperti Komnas Perempuan, KPAI dan sebagainya- serta ormas dan LSM-LSM memiliki andil besar dalam menyebarluaskan dan menanamkan ide gender ini di benak kaum muslimin. Mereka mendapatkan bantuan dana dan bantuan penyusunan program gender dari lembaga donor luar negeri seperti USAID dari Amerika Serikat dan Ausaid dari Australia.

Agenda gender adalah satu kesatuan agenda yang memiliki tujuan utama menghancurkan bangunan keluarga ideal. Dua sasaran utama yang dituju dalam proyek jahat ini adalah perempuan -terutama kaum ibu- dan generasi muda.

Sesungguhnya ada tiga motif utama yang melatarbelakangi Barat menyasar perempuan secara intensif. Motif itu adalah melenyapkan ketundukan terhadap hukum syari’at, kepentingan ekonomi dan penghancuran peran keibuan.

Penghancuran Peran Keibuan

Allah SWT menciptakan perempuan sebagai ibu generasi. Di tangan ibulah tanggung jawab pengasuhan dan peneguhan pembentukan karakter anak terjadi. Islam menjamin terlaksananya peran tersebut melalui serangkaian hukum syariat. Seperti kewajiban hadlonah hingga anak tamyiz, menganjurkan para ibu untuk menyusui anaknya selama 2 tahun dan tidak memperbolehkan anak yang dalam masa pengasuhan bepergian jauh tanpa ibunya. Semua tatanan syariat itu demi memastikan anak berada di tangan sebaik-baik insan, karena ibu adalah muara kasih sayang dan sumber pengetahuan pertama (madrasatul ula) bagi anaknya.

Realitas ini tidak dipahami oleh kafir Barat. Di saat kapitalis menuntut peran maksimal perempuan untuk menghasilkan materi, mereka merusak peran keibuan itu. Memang, pemerintah negeri muslim -atas komando Barat- telah menyusun aturan-aturan yang seakan-akan melindungi anak dan menjaga peran keibuan itu. Namun tujuan hakikinya adalah agar ibu mereka tetap nyaman bekerja untuk mengejar produktifitas dan nilai keekonomian, tanpa muncul rasa bersalah karena meninggalkan anaknya seharian di tempat kerja.

Seperti Kementerian Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak (KPP-PA) yang sejak 5 Juni 2015 mewajibkan semua instansi pemerintah dan perusahaan swasta untuk menyediakan ruang menyusui, ruang penitipan anak (day care centre) dan fasilitas pelayanan kesehatan bagi pekerja perempuan. Kebijakan tersebut tertuang dalam Peraturan Menteri (Permen) Nomor 5 tahun 2015. Menteri Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak, Yohana Yembise mengatakan, regulasi ini dibuat dalam rangka memberikan perlindungan dan pemenuhan hak anak yang dalam kesehariannya ditinggal kedua orang tuanya untuk bekerja. Semua mekanisme ini bukan sekedar dilakukan karena upaya melindungi dan sayang anak, namun sekali lagi hanya dilakukan demi kepentingan ekonomi. Pemerintah lupa, bahwa pengasuhan anak bukan sekedar perlindungan akan fisik dan kesehatan anak saja.

Sesungguhnya, ketika syariat Islam mewajibkan ibu melakukan tugas ini tidak lain untuk mengemban tugas masa depan. Tugas mulia demi menyelamatkan peradaban dari kerusakan dan menegakkan Kalimatullah sepanjang zaman. Ibu sangat berperan penting dalam menumbuhkan karakter mulia anak. Dekapan dan kehadiran ibu menumbuhkan rasa aman, keterikatan psikis, kedekatan lahir-batin antara ibu dan anak yang tidak mungkin digantikan oleh siapapun atau fasilitas senyaman dan secanggih apapun.

Perusakan peran dan fungsi keibuan ini juga tidak melulu dialami Indonesia. Di seluruh dunia Islam, program-program hurriyatul mar’ah (pembebasan perempuan) memang digencarkan melalui strategi global yang dirancang oleh musuh-musuh Islam. Muara dari semua strategi itu adalah hendak mencabut fungsi dan peran keibuan lewat program-program pemberdayaan. Bila ibu telah melupakan dan meninggalkan peran utamanya sebagai ibu generasi, pondasi bangunan keluarga tidak akan kuat menahan gangguan yang muncul dari dalam dan luar rumah. Bila pondasi keluarga rapuh, tinggallah menunggu kehancuran sebuah peradaban. (Dari berbagai sumber) ***

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here