Kuatnya Modernisasi, Jauhkan Umat dari Islam Kaffah?

0
848

Oleh: Hj. Padilati Siregar ST

MUKTAMAR Tafsir Nasional 2020 yang diselenggarakan Program Studi Ilmu al-Qur’an dan Tafsir Universitas Nurul Jadid (Unuja) Probolinggo menghasilkan beberapa rekomendasi. Di antaranya, ratusan peserta muktamar tersebut sepakat untuk mempromosikan moderasi Islam atau Islam moderat.

Salah satu pembicara muktamar tersebut, Prof Abdul Mustaqim mengatakan, untuk menghasilkan tafsir Alquran dan hadits yang mengedepankan moderasi diperlukan adanya sinergitas antarberbagai pihak. “Menurut hemat saya perlu membangun sinergitas program atau kegiatan yang bisa mempertemukan para akademisi, termasuk tentunya dosen para mubaligh, dai, termasuk kalangan pesantren untuk merumuskan konsep dakwah yang mengacu pada nilai-nilai moderasi,” ujar Prof. Mustaqim, Ahad (12/1).

Guru Besar Ilmu Alquran dan Tafsir UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta menjelaskan, moderasi merupakan karakter dasar Islam, yakni berada di tengah-tengah. Menurut dia, Pancasila itu sejatinya juga bagian dari bentuk moderasi, sehingga sudah tepat Indonesia memilih Pancasila dalam konteks relasi antara agama dan negara.

“Jadi Indonesia ini bukan negara Islam tapi juga bukan negara sekuler. Cuma agama memberi peran, nilai di dalam tata kelola kenegaraan. Pancasila tidak harus dipertentangkan dengan Alquran dan hadits. Karena intinya itu sudah sejalan dengan prinsip dasar Alquran dan Hadits,” jelasnya.

Saat menjadi pembicara dalam muktamar tersebut, Prof Mustaqim juga menawarkan sebuah metodologi untuk memahami dan menafsirkan Alquran dan hadits secara moderat, yaitu Tafsir Maqashidi.

“Tafsir Maqashidi itu adalah sebuah pendekatan tafsir yang mencoba menengahi dua ketegangan epistimologi tafsir antara yang tekstualis dengan yang liberalis,” ucap Pengasuh Pesantren Lingkar Studi Quran (LSQ) Arrahmah Yogyakarta ini.

Semakin kuatnya arus moderasi, juga ditunjukkan dengan penciptaan tafsir moderat. Islam moderat sesungguhnya merupakan pemahaman yang tidak datang dari islam dan tidak di kenal dalam Islam. Pemahaman ini justru berkembang pasca diruntuhkannya negara Khilafah dan mendapat dukungan dari negara-negara Barat.

Islam moderat merupakan desain Barat untuk mencegah kebangkitan Islam. Strategi ini telah didesain secara apik untuk terus meninabobolkan umat Islam, bahkan melumpuhkannya hingga tak mampu bangkit kembali.

Amerika Serikat memang merancang pendekatan yang sangat halus dalam pertarungan ideologi antara Islam dan Kapitalisme. Cherly Benard-peneliti RAND Corporation menyebutkan bahwa dunia Islam harus dilibatkan dalam pertarungan tersebut dengan nilai-nilai Islam yang dimilikinya. AS harus menyiapkan mitra, sarana, strategi demi memenangkan pertarungan.

Propaganda Islam Moderat di Indonesia
Berbagai upaya terus dilakukan agar ide Islam moderat bisa diterima oleh masyarakat, bahkan dianggan sesuatu yang harus diperjuangkan. Rancangan Rand Corporation adalah menjadikan Indonesia sebagai poros Islam moderat dan sebagai penjaganya, wajar jika pada akhirnya Islam moderat terus dipropagandakan di negeri ini.

Tujuannya tidak lain agar nilai-nilai dan praktik Islam khususnya yang berhubungan dengan politik islam dan berbagai hukum-hukum Islam lainnya dapat dihilangkan dari kaum muslim.

Ide Islam moderat harus terus digaungkan bahkan sudah tidak asing di telinga umat, yaitu Islam yang ramah, manis, dan toleran.
Sepintas gagasan “Islam moderat”seolah-olah positif dan elegan. Akan tetapi setelah ditelusuri kampanye Islam moderat tidak lepas dari peristiwa WTC 11 September 2001. Di mana kelompok muslim dituduh bertanggung jawab atas kejadian tersebut sehingga layak untuk diperangi. Akhirnya umat Islam menjadi pihak tertuduh dan diciptakanlah istilah Islam Radikal untuk mengiring kaum muslimin agar menerima Islam moderat, yang digambarkan bak moster, intoleran, dan layak disebut teroris.

Sayangnya kelompok Islam radikal justru disematkan kepada kaum muslimin yang tegas menyuarakan Islam Kaffah dan berupaya mengamalkan ajaran Islam dengan totalitas, dengan menyebutnya sebagai kelompok Islam fundamentalis.

Jadi sudah sangat jelas bahwa ide Islam moderat tidak berasal dari Islam, terlebih lagi bahaya ide ini sangat nyata. Penyebaran paham ini akan memecah belah persatuan umat, memalingkan perjuangan kaum Muslimin dan menjauhkan penerapan Islam kaaffah, serta semakin melanggengkan penjajahan Barat. Alih-alih bisa membawa umat kepada kebangkitan, justru yang terjadi adalah akan semakin menjauhkan umat dari kebangkitan. Oleh sebab itu, umat Islam harus membendung pemikiran Islam moderat dari akarnya dan membuangnya jauh-jauh.

Semua pihak, termasuk negara harus berperan aktif dan turut serta dalam melindungi umat dari setiap upaya yang ditujukan untuk menggerus, menistakan dan melenyapkan akidah Islam serta memberikan keleluasaan kepada umat untuk belajar dan melaksanakan hukum-hukum Islam secara sempurna. Semua ini hanya mungkin dilakukan jika syariah Islam diterapkan secara total dalam sistem pemerintahan Islam yakni khilafah ala minhaj an-nubuwah. Telah sangat jelas sesungguhnya bahwa Allah SWT memerintahkan kita untuk mengamalkan Islam secara kaffah, ajaran Islam yang dicontohkan dan dibawa oleh Rasulullah Muhammad SAW, bukan Islam moderat. Baik menyangkut kehidupan pribadi, keluarga, maupun ketika bermasyarakat dan bernegara. Dengan kata lain, kita diminta untuk mengatur seluruh urusan kehidupan dengan Islam. Sebagaimana firman Nya :
يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا ادْخُلُوا فِي السِّلْمِ كَافَّةً وَلَا تَتَّبِعُوا خُطُوَاتِ الشَّيْطَانِ إِنَّهُ لَكُمْ عَدُوٌّ مُبِينٌ
“Hai orang-orang yang beriman, masuklah kamu ke dalam Islam secara keseluruhannya, dan janganlah kamu turut langkah-langkah syaitan. Sesungguhnya syaitan itu musuh yang nyata bagimu”. (TQS. Al-Baqarah [2]: 208). *** Wallahu a’lam bishawwab.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here