Belajar Menerima Kekalahan dalam Helatan Pilkades

0
327

Penulis: Alam Subuh Fernando

PEMILIHAN kepala desa (Pilkades) secara serentak di Kecamatan Padang Cermin, Kabupaten Pesawaran, Provinsi Lampung, berlangsung aman dan lancar. Pilkades yang diikuti 80 desa di Kabupaten pesawaran tersebut sukses menyelenggarakan pesta demokrasi di tahun 2019 ini. Ada sebanyak 4 desa yang diindikasikan rawan pun, ternyata proses Pilkadesnya berjalan dengan aman.

Hingga berakhirnya pemungutan suara yang dilanjutkan dengan penghitungan dan pengumuman hasilnya, belum ada laporan peristiwa yang mengganggu keamanan. Meski, ada beberapa desa yang bakal calonnya mencapai lebih dari lima orang. Misalnya, Desa Sanggi bakal calonnya ada 5 orang.

Pilkades dalam hal ini merupakan bentuk dan pola pembangunan yang sekarang dikembangkan di desa ini adalah pembangunan partisipatif. Pengembangan partisipatif merupakan pola pembangunan yang telah lama dilakukan oleh bangsa jauh sebelum kemerdekaan, dan melibatkan masyarakat desa yang telah menjadikan hal ini sebagai budaya, seperti dengan menerapkan gotong royong, kerja bakti, serta tanggung renteng (partisipasi). Namun, pola yang dikembangkan dewasa ini merupakan penyempurnaan dari bentuk sebelumnya dengan lebih lengkap, terencana dan sistematik.

Berbagai program seperti yang sifatnya penanggulangan kemiskinan, bantuan kesehatan, pendidikan, pembangunan fisik dan sebagainya yang pernah ada, sering dibahas menempatkan masyarakat sebagai aktor atau pelaku utama. Namun realistisnya, pola pembangunan partisipatif belum berjalan maksimal (jika tidak mau dibilang belum tampak sama sekali). Hal ini terjadi karena masih ada sentimen antarkontestan pada Pilkades.

Adapun sentimen pasca pilkades menjadi salah satu momen penting dalam perjalanan hidup kepala desa. Sebagian besar kades dari proses pemilihan yang mengandung politik saling hasut di antara tim sukses dan mengumbar kelemahan lawan pribadi (bukan visinya). Dengan demikian, biografi yang baik tentu menjadi modal awal promosi calon kepala desa. Sebagai contoh para pendukung Kades A akan mendukung gelar sarjananya dibandingkan kandidat yang lain. Begitupun juga para pendukung Kades B, tim pemenangan kepala desa membesarkan isu pendatang untuk meyudutkan rivalnya. Bahkan ada pula yang sangat sentimentil membawa airan keyakinan untuk menjatuhkan lawan.

Tak jarang ketegangan ini berlangsung hingga pascapilkades. Mereka tak bisa menentang interaksi antarwarga, terutama pada kegiatan atau hajatan sosial. Lebih dari itu, warga desa memiliki hubungan kekerabatan di antara warga lainnya.

Meskipun demikian, kita tidak dapat menutup mata yang membahas ini diangkat untuk terus berlangsung dan bertumbuh dalam masyarakat. Pada beberapa desa di Pesawaran yang dikunjungi penulis melakukan pertemuan pasca pilkades yang sangat kental dan cukup mendukung dalam dinamika kehidupan di desa.

Hal ini terjadi karena pihak yang kalah dalam kontestasi pilkades masih belum bisa menerima secara dewasa dalam menerima kekalahan. Kondisi ini kemudian diperparah oleh sebagian oknum dengan perang argument di berbagai media sosial misalnya status WA, facebook bahkan Instagram yang kemudian memprovokasi masyarakat lain untuk tidak terlibat dalam pembangunan desa. Dengan demikian muncul sebuh sikap semacam “pembangkangan” dan sikap apatis dari pihak yang kalah dalam kerangka membangun dan memajukan desanya. Dan hal ini tidak bisa didiamkan akan lebih baik jika semua akur dan kembali menjadi satu tujuan yaitu membangun desa lebih baik.

Kesan ini semakin kental dan cukup terpelihara dalam dinamika kehidupan di beberapa desa di Pesawaran. Dengan dalih menjadi pulih, sentimen dengan pihak yang menang menjadi terus menguat. Hal ini kadang-kadang membuat Kades yang menang cukup sulit dalam menjalankan programnya, tetapi juga mendukung yang baik yang mendukungnya maupun yang menjadi lawannya saat Pilkades. Sebab setiap program yang dimunculkan oleh Kades selalu dilihat sebagai upaya untuk memperkuat kekuasaannya dan hanya mementingkan kelompok pendukungnya.

Zainullah pemenang suara terbanyak di Desa Paya memberikan tanggapannya. “Kemenangan saya adalah kemenangan rakyat Paya. Saya memang bukan putra daerah akan tetapi jiwa dan raga saya sudah di sini. Saya hidup disini sudah puluhan tahun bersama anak dan istri. Jadi sangat besar harapan saya memajukan Desa Paya. Ke depannya saya dan masyarakat akan komunikasi efektif baik yang mendukung saya maupun yang tidak. Tentunya saya akan melibatkan tokoh masyarakat, dengan orang kepercayaan saya lanjut jumpa dengang silaturahmi dengan mereka yang memiliki pengaruh banyak perolehan suara tokoh agama, termasuk tokoh supranatural tradisional dan tentunya tokoh pemuda. Kita bersaudara kita harus bekerjasama untuk paya lebih baik.”

Terjadi hal yang menegangkan setelah polling pilkades, sebagian kubu pendukung merupakan hal yang wajar. Namun, diharapkan ini tidak dapat dibiarkan berkembang dan terus berkembang, dikembangkanlah polarisasi dalam masyarakat. Oleh karena itu, perlu upaya untuk meredam keperluan tersebut. Dalam rangka meredam pasca pilkades, rekonsiliasi antara pihak yang bertikai disetujui diperlukan. Rekonsiliasi merupakan upaya untuk meyatukan seluruh elemen masyarakat di desa dan kemudian bersama-sama dengan membangun desa. Dalam rangka rekosiliasi, kepala desa terpilih memiliki peran yang sangat penting. Sebagai seorang pemimpin, dia mesti memiliki strategi agar masyarakat bersih-tegang dapat bersatu kembali. Untuk meredam partisipasi, kepala desa mesti mengundang lawan politiknya selain tim suksesnya pada pemilihan atau untuk pengelolaan pemerintahan desa.

“Secepatnya merangkul bagin calon terpilih ucapan terimakasih dalam setiap agendanya dan tanpa membeda-bedakan. Ini juga membantu meredakan keadaan. Sebab beda dengan masyarakat yg terlibat menjadi team. Mereka akan selalu melihat kekecewaan ini agar terbalasakan. Bagi tim calonnya yang kalah agar mereka tetap optimis maka calon terpilih bisa menggunakan pendekatan kepada rivalnya.

Beda dengan pendapat  “Pilkades sudah berakhir, yang kalah harus legowo dan yang menang tidak boleh takabur. Kita semua saudara kita wajib bergotong-royong. Dan kepada yang menang kami siap membantu memajukan desa dan bekerja sama semoga desa semakin baik.”

Karenanya, kita harus belajar dari kekalahan. Menerima yang sudah menjadi keputusan bersama. Belajar dari sebuah kekalahan macam helatan pilkades memang sulit, tapi demi kemajuan desa, kita harus berusaha dan harus menerimanya. Semoga. ***

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here